BAB III
LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN
A. Jenis dan Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus, dimana metode ini secara khusus meneliti suatu kasus atau fenomena tertentu yang ada didalam masyarakat untuk mempelajari latar belakang, keadaan dan interaksi yang terjadi.
Penelitian dengan metode ini tidak harus meneliti satu orang atau individu saja melainkan bisa dengan beberapa orang atau objek yang memiliki satu kesatuan fokus fenomena yang akan diteliti. Untuk mendapatkan data, penelitian studi kasus ini menggunakan teknik wawancara, observasi sekaligus dengan studi dokumenter yang kemudian akan dianalisis menjadi suatu teori.
B. Jenis Data dan Sumber Data
1. Jenis Data
Jenis data yang dikumpulkan untuk memecahkan permasalahan diatas adalah data kualitatif. Yang mana data kualitatif ini bertujuan untuk memahami kondisi dan pemikiran masyarakat pada umumnya serta membantu peneliti untuk dapat lebih mengerti gambaran luas sebuah persoalan dan dapat mengetahui penyebab atau alasan dari sebuah situasi.
2. Sumber Data
a. Lokasi Penelitian
Peneliti mengambil lokasi penelitian di Komplek Riung Bandung yang beralamat di Jl. Keadilan Selatan IV Rt. 11 Rw. 09 Kelurahan Derwati Kecamatan Rancasari Kota Bandung. Dasar penelitian lokasi ini karena data dan sumber yang diperlukan tersedia dikomplek tersebut.
b. Objek Penelitian
Pada penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah keluarga yang berada di Komplek Riung Bandung. Objek penelitian ini adalah tiga keluarga yang beralamat di Jl. Keadilan Selatan IV Blok ND. 12, ND. 14 dan ND. 17 dengan alasan berdasarkan hasil observasi 3 keluarga ini memiliki keunikan dalam segi keagamaannya.
C. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik dalam pengumpulan data dalam penelitian ini, sebagai berikut:
1. Observasi
Secara umum, pengertian observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan (data) yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan (Anas, 2012:76). Observasi hendak dilakukan ketika peneliti sudah menyiapkan beberapa aspek yang ingin dijadikan sumber data pokok.
2. Wawancara
Secara garis besar bahwa wawancara adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilaksanakan dengan melakukan tanya jawab lisan secara sepihak, berhadapan muka, dan dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan (Anas, 2012: 82). Wawancara yang peneliti lakukan adalah langsung dengan orangtua selaku yang tertinggi didalam keluarga dan kepada anak sebagai data penguat atau tambahan dari apa yang disampaikan oleh orangtuanya.
Adapun pertanyaan yang diberikan seputar bagaimana orangtua mengenali adanya Tuhan, bagaimana cara meningkatkan keimanan anak melalui puasa dan sholat, keterkaitan lingkungan dengan keluarga serta tujuan akhir dari pendidikan yang orangtua berikan kepada anak.
D. Analisis Data
Dalam penelitian kualitatif ini ada beberapa macam analisis data sesuai dengan data kualitatif yang di teliti. Secara umum, model analisis data terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu: (Burhan Bungin, 2011: 161)
1) Kelompok metode analisis teks dan bahasa
a) Content analysis (analisis ini)
b) Framing analysis (analisis bingkai)
c) Analisis kontruksi sosial media massa
d) Hermeneutic
e) Analisis wacana kritis
2) Kelompok analisis tema-tema budaya
a) Analisis struktural
b) Domain analysis
c) Taxonomi analysis
d) Componential analysis
e) Discovering cultural theme analysis
f) Constant comparative analysis
g) Grounded analysis
h) Ethnology
3) Kelompok analisis kinerja dan pengalaman individual serta perilaku institusi
a) Focus group discussion (FGD)
b) Studi kasus
c) Teknik biografi
d) Life’s history
e) Analisis SWOT
f) Penggunaan bahan dokumenter
g) Penggunaan bahan visual
E. Prosedur dan Teknik Pemeriksaan Uji Keabsahan Data
Menurut Seiddel dalam Burhan Bungin mengatakan bahwa analisis data kualitatif prosesnya adalah sebagai berikut: (Burhan Bungin, 2011: 149)
• Proses pencatatan yang menghasilkan catatan lapangan yang bertujuan agar sumber data tetap dapat ditelusuri.
• Mengumpulkan, memilah-milah, mengklasifikasikan, menyintesiskan, membuat ikhtisar dan membuat indeksnya.
• Berfikir dengan membuat data memiliki makna, mencari dan menemukan pola dan hubungan-hubungan.
• Membuat temuan-temuan umum.
Miles dan Huberman, mengemukakan bahwa teknik pemeriksaan uji keabsahan data memiliki dasar yang biasa dipakai oleh para peneliti, diantara tekniknya adalah: (Muhammad Idrus, 2009: 151)
1) Reduksi Data
Mereduksi data artinya merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal yang penting dan membuang yang tidak perlu (Sugiyono, 2009: 338).
2) Penyajian Data
Penyajian data adalah sekumpulan informasi tersusun yang memberi keumgkinan adanya penarikan kesimpulan berbentuk narasi dengan penyederhanaan makna tanpa mengurangi isinya (Muhammad Idrus, 2009: 151)
3) Kesimpulan atau Verifikasi
Kesimpulan atau verifikasi adalah tahap akhir dalam proses analisa data. Pada bagian ini peneliti mengutarakan kesimpulan dari data-data yang diperoleh. Penarikan kesimpulan bisa dilakukan dengan jalan membandingkan kesesuaian pernyataan dari subjek penelitian dengan makna yang terkandung dengan konsep-konsep dalam penelitian tersebut.
?
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Profile Lokasi Penelitian
B. Deskripsi Hasil Penelitian
Dari wawancara kepada ketiga keluarga yang telah dikunjungi saya mendapatkan beberapa hasil yang begitu menakjubkan untuk saya pribadi rasakan. Sebab banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari berbagai cara mereka yang memperlakukan anaknya dengan baik sampai dengan harapan yang mereka inginkan. Penuturan hasil wawancara sebagai berikut:
Bapak M. Fikri Nasih adalah kepala keluarga yang memiliki satu istri dan tiga orang anak. Anak pertama berusia 17 tahun, anak kedua 11 tahun dan anak ketiga berusia 1 tahun. Pekerjaan yang ia lakukan adalah sebagai konsultan. Mereka berasal dari keluarga yang tidak terlalu kental dengan agama namun ia sebagai kepala keluarga menyadari bahwa ia memiliki tanggungjawab besar didalamnya. Dengan hanya sekedar membawa bekal dari segi materi atau mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan didalam sebuah pernikahan.
Dilihat dari sisi luar pandangan tetangga, keluarga mereka terlihat biasa-biasa saja. Namun tidak demikian, setelah saya mewawancarai kepala keluarga sekaligus istri dari pa fikri ternyata keluarga mereka jauh dari apa yang saya fikirkan. Pendidikan serta pola asuh yang mereka berikan tidaklah amat membuat ketiga anaknya menjadi merasa tidak nyaman atau terkekang didalam rumah. Yang mana pendidikan yang begitu menarik berdasarkan usia serta pola asuh kedemokratisan terbatas yang membuat ketiga anaknya mengerti dan membuat mereka terus menjadi kebanggaan untuk ibu dan bapaknya.
Pertanyaan pertama yang saya ajukan adalah mengenai pengenalan orangtua terhadap anak tentang adanya Allah Swt. Pa fikri menjawab dengan tegas bahwa mereka mengenalkan akan hal itu dengan cara mereka memberikan teladan melalui perantara mengerjakan sholat dan membaca al-Qur’an. Dengan begitu, anak akan bertanya pada orangtua lalu menjelaskan dengan bahasa yang anak-anak fahami sampai kemudian anak akan mengenal dari pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakannya.
Pertanyaan kedua ini yang begitu saya kagumkan atas jawaban keluarga pa fikri dengan saya menanyakan bagaimana anda menanamkan rasa cinta dalam diri anak terhadap al-Qur’an. Pa fikri menjawab, itu sangat mudah dilakukan ketika mereka sekeluarga sedang mengobrol santai didepan televisi atau ketika sedang makan. Diarahkannya anak-anak untuk terus mengerti mana hal yang baik dan buruk versi agama.
Dilanjut dengan pernyataan istri dari pa fikri yang mengatakan, yang terpenting adalah televisi harus hanya ada satu yaitu diletakkan diruang TV dan andaikan kata televisi ada di kamar tidur setiap anak maka tidak akan ada lagi yang namanya perkumpulan keluarga sebab mereka akan sibuk sendiri dengan apa yang mereka lakukan.
Pertanyaan yang ketiga terkait dengan bulan ramadhan yang setiap tahun wajib dijalankan oleh umat Islam yaitu dari umur berapakah anda sebagai orangtua menyuruh anak-anak anda menjalankan ibadah puasa serta apa yang anda lakukan ketika anak anda dapat melaksanakan puasa satu hari penuh atau bahkan satu bulan lamanya. Ia menjawab, kami berdua selalu mengajak anak-anak untuk berpuasa sekemampuan mereka, ketika anak pertama dan anak kedua duduk di bangku taman kanak-kanak mereka hanya melakukan puasa setengah hari sampai akhirnya ketika mereka berusia 9 tahun tepatnya kelas 3 sekolah dasar mereka mampu melakukan puasa satu hari penuh.
Untuk tindakan lebih lanjut tentang apa yang kami lakukan kepada anak-anak setelah mereka dapat menjalankan ibadah puasa dengan semestinya, kami tidak memberikan hal yang lebih terhadapnya sebab, hal itu adalah kewajiban semata yang harus umat Islam jalankan. Sudah menjadi hal yang lumrah ketika orangtua membelikan baju lebaran, mereka merasa itu sudah menjadi hal rutinitas yang harus dilakukan dan tidak dianggap sebagai hadiah berkat anaknya telah berpuasa, karena dia berpuasa ataupun tidak baju baru dihari lebaran mestilah ada.
Pertanyaan keempat terkait dengan penyembahan diri kepada Allah Swt, apakah anda sebagai orangtua selalu mengingatkan anak untuk menjalankan ibadah sholat dan apa yang anda lakukan ketika mengetahui bahwa anak anda melalaikannya. Ia menjawab dengan tanpa rasa malu, justru ia sebagai orangtua yang selalu diingatkan oleh anaknya dan ia melanjutkan pernyataannya ada siklus dimana orangtua tidak selalu benar.
Disamping itu dikeluarga mereka pun memiliki toleran ketika anak mengetahui bahwa bapaknya lebih cape dari dirinya mereka tak boleh begitu saja menegur bapaknya, hanya saja ketika mereka sedang melihat bapaknya sedang duduk santai dan belum melaksanakan sholat barulah anaknya menegur bapaknya untuk segera melakukannya. Disamping itu, mereka secara spontan membanggakan anak pertamanya karena ia telah mampu menjalankan puasa sunnah Rasul senin dan kamis yang keluarga ini tanamkan sejak dini dan mendoktrin bahwasannya puasa dapat menggantikan sesuatu yang kita inginkan.
Dilanjut dengan pertanyaan yang kelima mengenai keteladanan didalam keluarga, apakah anda adalah orang yang pertama kali memberikan teladan yang benar dan baik untuk anak-anaknya. Istrinya pa fikri menjawab dengan seketika bahwa merekalah yang sepenuhnya memberikan teladan baik kepada anak-anaknya sekemampuan mereka dan dilanjut dengan jawaban dari pa fikrinya sendiri dengan mengatakan bahwa ibu nya yang memiliki peran penting terhadap perilaku anaknya sebab ibunya lah yang sangat amat dekat dengan ketiga anaknya.
Pertanyaan yang keenam mengenai pengajaran al-Qur’an kepada anak-anaknya, apakah didalam belajar al-Qur’an anda memilih untuk mengajarkannya sendiri dirumah atau dimasjid-masjid yang terkenal dengan Madrasah Diniyah Takmiliyah (DTA). Pa fikri menjawab bahwa ibunya lah yang pandai mengajarkan al-Qur’an maka ia tak perlu lagi mengirimkan anak-anaknya untuk mengaji ke masjid-masjid terlebih dilihat lebih efektif diajarkan dengan orangtua dibandingkan oleh oranglain yang hanya memiliki sedikit waktunya.
Pertanyaan yang ketujuh tentang seberapa pedulinya kah mereka menempatkan anak-anaknya terhadap lingkungan sekitar. Mereka menjawab dengan sangat kompak bahwa itu hal yang sangat penting untuk diperhatikan sebab lingkungan pengaruhnya lebih besar daripada keluarga. Disisi lain, lingkungan pula yang meringankan beban mereka untuk memantaunya karena ketika anak ditempatkan pada lingkungan yang baik maka orangtua tak perlu repot mencari anaknya sedang bermain dengan siapa dan dimana.
Pertanyaan selanjutnya meliputi teknologi yang sekarang merajalela dizaman millenium ini, dengan bagaimanakah anda selaku orangtua memberikan batasan anak untuk bermain gadget dan diusia berapakah anda memberikan keleluasaan terhadap anak untuk menggunakan teknologi. Yang saya fahami sendiri dari keluarga pa fikri adalah mereka hanya keluarga biasa seperti keluarga-keluarga lainnya yang dapat memberikan gadget kepada anaknya dengan secara bebas, namun tidak demikian ternyata pa fikrinya sendiri pandai sekali terhadap teknologi sehingga anak-anaknya dapat terpantau secara berkelanjutan.
Ia menjawab bahwa jika gadget itu dimainkan secara positif maka mereka selaku orangtua mendukung saja, namun ketika nyatanya anak-anak dari mereka menggunakannya dengan berlebihan atau lebih kepada hal yang negatif maka mereka pun membatasi dengan kuota yang ada. Sebab anak-anak zaman sekarang menggunakan gadget itu sendiri untuk memainkan game online yang menurut mereka itu hanya dapat memboroskan uang saja.
Untuk hal yang lebihnya seperti pemakaian password untuk menjaga keamanan gadgetnya mereka rasa tidak perlu dilakukan. Disamping itu, mereka selalu melakukan pengecekkan setiap harinya terhadap gadget yang anak-anaknya gunakan untuk mengurangi atau membatasi hal-hal yang mungkin dapat dilakukannya diluar batas umurnya yang mungkin masih terbilang belum dewasa.
Namun berbeda halnya ketika nanti anak pertamanya sudah menginjak bangku kuliah, mereka akan memberikan kebebasan lain tanpa mengurangi perhatian mereka selaku orangtua untuk memantaunya lebih jauh. Tidak ada rasa pengekangan terhadap diri anak-anak karena mereka merasa tidak perlu ada yang harus disembunyikan untuk masalah sosial media ini karena menurutnya apa yang sekarang disembunyikan tentulah akan terbuka dengan sendirinya. Penuturan lain dari pa fikrinya sendiri bahwa ia memiliki pemahaman semakin zaman teknologi berkembang maka pengetahuan ia pun harus berkembang saat itu juga. Dilanjut dengan pernyataan yang membuat saya menjadi tahu diantara pernyataannya itu adalah:
Seseorang berkumpul dengan seorang pengacara minimal sedikitnya dia akan menjadi pengacara walau pengacara paling bodoh. Seseorang berkumpul dengan seorang ustadz minimal sedikitnya dia akan menjadi ustadz walau ustadz paling bodoh. Dan seseorang berkumpul dengan penjahat teknologi minimal sedikitnya dia akan menjadi penjahat teknologi walau penjahat teknologi yang paling bodoh.
Maka dari itu menurutnya agama tetap no satu tetapi lingkungan bisa lebih jahat dari apapun.
Pertanyaan kesembilan mengenai pola asuh yang mereka berikan kepada anak-anaknya yaitu dengan pola asuh yang demokratis terbatas artinya mereka perlakukan ketiga anaknya sesuai dengan usianya. Pada usia berapa dia harus mengatakan, jika perlakuannya pantas sesuai dengan usianya maka ia dukung namun jika tidak maka mereka tegur dengan memberikan solusi yang terbaik untuk menggantikan apa yang anak-anaknya inginkan.
Pertanyaan terakhir adalah apakah tujuan akhir dari pendidikan yang anda selaku orangtua berikan kepada anak-anaknya. Ia menjawab bahwa dirinya menginginkan anaknya mapan dan memiliki kehidupan yang lebih baik dari dirinya. Mereka khawatir jika dirinya dan istrinya sudah tidak ada bagaimana kehidupan anaknya jika tidak lebih baik. Maka dari itu, ia dan istrinya semampu mungkin memberikan pendidikan serta penanaman akhlak yang baik untuk masa depan anak-anaknya. Tidak setiap keluarga memiliki motto kehidupan namun lain halnya dengan keluarga satu ini, mereka memiliki motto kehidupan guna menjadikan motivasi untuk mereka hidup yang motto tersebut adalah:
Hidup seadanya, tidak memaksakan tetapi tetap berusaha
Keluarga kedua yang saya wawancara adalah keluarga yang memiliki basic kependidikan yang cukup baik. Bapak Ade Ansor Saefudin, M.Ag namanya, ia memiliki satu istri dan dua anak. Seorang DKM dimasjid Al-falah dan sekarang ia sedang melanjutkan pendidikan S3 nya di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Keluarga yang cukup terpandang dan saya rasa pendidikan yang diberikan kepada anaknya pun dirasa amat cukup baik serta pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukanpun dapat dijawab dengan secara tegas olehnya.
Pertanyaan pertama sama seperti yang saya berikan kepada keluarga sebelumnya, mengenai adanya Allah dan bagaimana cara ia memberikan pemahaman kepada anak-anaknya sampai kedua anaknya dapat memahaminya dengan baik. Ia mengaplikasikan hal itu dengan cara mengenalkan bukti-bukti kekuasaan Allah seperti adanya bumi, matahari, manusia sebagai ciptaanNya. Dan ia pun mengajarinya sedari usia dini sekitar umur 4 tahun ketika anak mulai dapat berkomunikasi.
Pertanyaan kedua yang saya ajukan mengenai penanaman rasa cinta dalam diri anak terhadap al-Qur’an. Ia beserta istrinya bekerja sama akan hal itu, dengan cara menghafal atau melihat ibu dan bapaknya menghafal. Ketika itu, anak akan mengikuti apa yang dilakukan orangtuanya karena fitrah anak itu adalah meniru. Mulai dari umur 2,5 tahun mereka sudah mengajak anak untuk dapat menghafalkan surat-surat pendek.
Pertanyaan ketiga mengenai penekanan untuk selalu berbuat baik dan menjauhi perbuatan buruk. Ia menjawab bahwa ketika anaknya berbuat kesalahan maka ibu dan bapaknya segera memberikan teguran atau diingatkan. Jika anak melakukan itu kembali maka teruslah diingatkan dan diluruskan dan jangan lupa diberitahukan apa yang seharusnya dia lakukan sampai dia mengerti bagaimana dia harus bersikap sehingga timbul pembiasaan untuk terus berbuat kebaikan.
Pertanyaan keempat adalah tentang bulan ramadhan yang selalu dinantikan oleh umat Islam, bagaimana anda sebagai kepala keluarga menyuruh atau mengajak anak untuk menjalankan ibadah puasa dan apa yang selalu anda berikan kepada anak ketika anak dapat menjalankannya satu hari penuh atau bahkan dapat melakukannya satu bulan penuh. Ternyata ia sudah memberitahu pada anaknya ketika umur 2 tahun dan ketika anaknya menduduki taman kanak-kanak ia tidak memberatkan pada anaknya untuk dapat puasa satu hari penuh namun menekankan melatih sekemampuannya.
Disisi lain ketika anaknya dapat melakukannya satu hari penuh atau bahkan satu bulan ia selalu berikan penghargaan seperti barang atau sesuatu yang anaknya inginkan dan tak lupa sesuai dengan kemampuan orangtuanya. Namun, tidak untuk terus dilakukan setiap tahunnya karena pada umur 9 tahun ia berhentikan kebiasaan itu dengan memberikan pemahaman akan diwajibkannya berpuasa sehingga anak tidak akan menuntut penghargaan kembali kepada ibu dan bapaknya.
Pertanyaan kelima mengenai tentang kewajiban melaksanakan sholat dan sangsi apa yang diberikan kepadanya ketika ia tak melalaikannya. Ia membuat jadwal sholat yang mana anak berkewajiban menceklis jadwal pada hari itu ketika anaknya sudah melaksanakan sholat. Ia pun membebaskan anaknya apakah anak itu akan berlaku jujur atau malah membohongi dirinya sendiri. Dan sebelum ia menerapkan hal itu, ia memberikan pemahaman terlebih dahulu kepada anaknya ketika berlaku jujur pasti mendapat pahala namun ketika berbohong maka mendapat dosa. Setelah itu anak akan terbiasa berlaku jujur disetiap harinya ketika akan melakukan sholat.
Pertanyaan keenam tentang pemberian teladan tentang pengalaman agama terhadap anaknya. Ia menjawab ia lah yang memberikan teladan namun yang lebih utama terletak kepada ibunya sebab ibunya lah yang dapat dibilang lebih lama bersama anak-anaknya. Sesudah itu, istrinya bekerja sama dengannya supaya ia dapat melakukan apa yang ibunya lakukan agar dapat seimbang antara ibu dan bapak dan menjauhi sikap keragu-raguan terhadap anak ketika kedua anaknya melihat perbedaan penyikapan dari orangtuanya.
Pertanyaan ketujuh adalah tentang pengajaran al-Qur’an yang ia berikan kepada lembaga atau lebih mengutamakan mengajarkannya sendiri dirumah. Ia menjawab bahwa ia lebih mengutamakan belajar dirumah karena ia dapat lebih memantau anak-anaknya ketika membaca al-Qur’an. Ketika dirasa dia sudah dapat membaca al-Qur’an tanpa bimbingannya ia lepaskan dan mengajarkan untuk terus bertadarus tanpa harus disuruh.
Pertanyaan kedelapan tentang seberapa pedulikah anda untuk menempatkan anak kepada lingkungan. Ternyata ia memberikan kepedulian sepenuhnya dalam artian ia membebaskan anak untuk bergaul dengan siapapun asalkan anak tetap tahu diri dan tahu situasi.
Pertanyaan selanjutnya adalah mengenai perkembangan teknologi pada zaman yang sudah berkembang, ia membatasi anaknya untuk menggunakan gadget dalam artian anak memiliki waktu untuk dibolehkannya bermain gadget. Anak keduanya ia berikan keleluasaan untuk dapat menggunakan gadget hanya pada dihari sabtu selain itu tidak diperbolehkan dan jika anak yang pertama ia persilahkan untuk menggunakannya setiap hari asalkan pergunakan dengan sebaik-baiknya.
Disamping itu, ia memberikan pola asuh yang masih samar untuk dijelaskan namun sepertinya ia dapat melakukannya dengan baik. Pola asuh yang diberikan kepada anaknya adalah yang mengikuti ajaran Rasul yang harus saling meluruskan atau mengingatkan. Dari apa yang dipaparkan olehnya, mungkin saja keluarga tersebut lebih menggunakan pola asuh yang demokratis sebab ketika anak melakukan kesalahan anak di ingatkan dan diluruskan. Didalamnya tidak terdapat indikasi bahwa ada pengekangan dari orangtua atau pembebasan terhadap apa yang dilakukan oleh anaknya.
Dan yang terakhir yang ia harapkan dari semua yang diberikan olehnya kepada anak-anak adalah pendidikan yang terbaik agar menjadi anak yang shaleh dan shalehah, menjadi kebanggaan orangtua, dirinya serta nusa dan bangsa.
Keluarga ketiga yang menurut saya cukup begitu menarik diteliti sebab keluarga ini memiliki satu anak yang cukup baik mengenal agama sedangkan ia masih berumur 7 tahun. Yusuf Nugrahayu namanya, ia berhasil membawa istrinya dan anaknya menuju jalan yang begitu baik melalui pemilihan lingkungan serta kajian-kajian keagamaan yang selalu diikutinya.
Ia dapat menjelaskan adanya Allah Swt kepada anaknya dari caranya menjelaskan dengan bahasa yang anaknya fahami seperti contohnya ia memperkenalkan adanya bumi, matahari sebagai ciptaan Allah Swt yang menandakan itulah kebesaranNya. Ia memberikan pemahaman pula kepada anaknya untuk tidak berlaku sombong sebab manusia tidak memiliki apa-apa dimata Allah Swt.
Menanamkan kecintaan kepada al-Qur’an pun mereka menggunakan cara dengan menjelaskan kebaikan-kebaikan dari membaca al-Qur’an itu seperti ketika dihari kiamat nanti al-Qur’an dapat menjadi penolong bagi orang yang selalu membacanya. Dan lebih mempermudah anak untuk melakukannya mereka memberikan contoh dari kebiasaan kesehariannya membaca al-Qur’an.
Selain dari membaca al-Qur’an mereka pun memberikan motivasi untuk anak mudah melakukan ibadah puasa dibulan Ramadhan dengan cara memberikan hadiah dan memberikan pemahaman bahwa puasa itu diwajibkan oleh Allah Swt. Dan ditahun ini tepatnya 2018 anak pertamanya dapat melakukan puasa satu bulan penuh pada usia 7 tahun.
Dalam melakukan sholat ia belum mewajibkan secara penuh kepada anaknya, dengan artian ibu dan bapaknya tidak selalu menghukumi secara keras ketika anaknya lalai terhadap sholat. Akan tetapi, mereka tetap memberikan didikan melalui keteladanan mereka untuk melakukan sholat setiap hari. Ketika anaknya tidak melakukan sholat tidaklah diancam berlebihan melainkan tetap diajak dengan secara halus melalui penjabaran kebaikan-kebaikan dari sholat itu. Disamping itu, ibunya pandai untuk mengajak anaknya menghadiri kajian rutin keagamaan meski dirasa anak belum mampu mencerna apa yang dijelaskan didalam kajian tersebut.
Dengan rutinnya ibu dan bapak menghadiri kajian keagamaan, mereka dapat mengaplikasikannya didalam rumah tangga. Mereka mengajarkan anaknya untuk setiap kali melakukan sesuatu didahulukan dengan membaca doa karena disisi lain disetiap melakukan sesuatu terdapat adab-adab baik didalamnya terlebih Rasul pun menganjurkannya.
Pemberian teladan utama pun untuk anaknya didalam keluarga ada pada dirinya dan istrinya. Meskipun ia dan istrinya hanya memberikan teladan sekemampunya namun ia merasa ia pun masih perlu dan terus belajar untuk menjadi kepala keluarga yang baik.
Didalam masalah memperdalam bacaan al-Qur’an ia lebih menginginkan anaknya untuk pergi kemasjid dengan teman sebayanya dengan alasan jika mengaji dirumah ia akan berlaku manja dan akan memberikan beribu alasan untuk tidak mengaji. Namun kendati demikian harapannya tidak berbuah manis, sebab anaknya tidak sedang ingin mengaji dimasjid maka tugas ia sebagai kepala keluarga wajib meluangkan waktunya untuk dapat mengajari anaknya mengaji setelah maghrib.
Untuk mengenai pola asuh yang diberikan oleh ayahanda dan ibunda kepada anaknya ialah lebih bersifat kedemokratisan. Tidak membebankan sesuatu yang mereka inginkan untuk kepentingan pribadinya. Justru malah ia menyuruh kepada anaknya untuk melakukan sesuatu sesuka hatinya namun tidak keluar dari batasan syariat Islam.
Lingkungan yang mereka berikan cukup begitu mendukung untuk pertumbuhan dan perkembangan anaknya. Maka tidak heran jika mereka merasa tidak harus yang banyak mereka kerahkan untuk memperhatikan dengan secara intensif. Disisi lain, ia tidak hanya memberikan lingkungan yang baik terhadap anaknya saja melainkan ia pun memberikan lingkungan yang baik terhadap istrinya serta pekerjaannya. Dimana tidak jarang terlihat mayoritas para ibu-ibu hanya melakukan kegiatannya diselingi oleh bergosip ria. Akan tetapi tidak dengan keluarga mereka, yang setiap harinya disibukkan dengan pekerjaan dan setiap hari liburnya disibukkan dengan menghadiri kajian.
Kehidupan yang terasa sangat agamis namun tidak pula melupakan keduniawian untuk menafkahi keluarga. Mereka sebagai orangtua pun mengalami banyak kesulitan ketika harus menghadapi zaman teknologi yang semakin hari semakin berkembang. Kesulitan yang dihadapi adalah ketika anak menginginkan gadget namun orangtua enggan memberikannya dengan alasan mereka khawatir jika anaknya kecanduan terhadap gadget itu.
Tak sampai disitu pemikirannya, mereka selalu terus berusaha mencari solusi agar anaknya dapat diberikan gadget namun tak ada kekhawatiran didalamnya dengan cara mereka memasukan tak hanya permainan melainkan banyaknya aplikasi-aplikasi yang dapat memberikan wawasan keagamaannya seperti cerita-cerita Nabi, belajar membaca Iqra ataupun menulis huruf hijaiyah.
Disamping telah diberikan aplikasi-aplikasi baik tidak menjadikannya begitu melepaskan anak ketika menggenggam ponsel karena fitrahnya anak itu memiliki keingintahuan yang sangat besar sehingga masih ditakutkan anaknya membuka situs-situs terlarang tanpa sepengetahuan ibu dan bapaknya.
Dan terakhir yang mereka inginkan dari pendidikan yang diberikan oleh orangtua kepada anaknya adalah mereka menginginkan anaknya menjadi orang yang lebih baik darinya serta dapat menjadi anak yang shalehah guna membanggakan ibu dan bapaknya serta orang-orang yang ada disekelilingnya.
C. Pembahasan
Didalam mini riset ini kami membahas seputar kependidikan agama Islam yang diaplikasikan didalam kehidupan berkeluarga. Pendidikan Agama Islam dalam keluarga memang terdengar sangatlah luas pembahasannya. Namun, kami membatasi pertanyaan yang akan kami teliti hanya dengan beberapa point saja. Point yang kami berikan kepada objek meliputi:
• Pengenalan Allah Swt kepada anak
• Penanaman rasa cinta dalam diri anak terhadap al-Qur’an
• Penekanan pada anak untuk selalu berbuat kebaikan
• Pembiasaan terhadap diri anak untuk melakukan ibadah puasa
• Pembiasaan terhadap diri anak untuk menjalankan ibadah sholat
• Pembiasaan mengajak kepada anak untuk menghadiri pengajian
• Pembiasaan berdoa sebelum melakukan sesuatu
• Pemberian keteladanan didalam keluarga
• Pengajaran kepada anak dalam bidang membaca al-Qur’an
• Pola asuh yang orangtua berikan kepada anak
• Penempatan lingkungan yang baik kepada anak
• Pengaruh gadget terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak
• Dan tujuan akhir dari pendidikan yang diberi orangtua kepada anak
Setiap keluarga pasti menginginkan pendidikan yang lebih baik untuk anak-anaknya namun tergantung kepada orangtua memberikannya. Orangtua harus selalu senantiasa terus belajar dan mencari apa yang menjadi ketidaktahuannya agar ketika anak tumbuh dizaman yang berkembang maka ia selaku orangtua tidak terlalu kerepotan akan hal itu.
yang menjadi sebuah masalah saat ini adalah ketika orangtua tidak dapat mengayomi perkembangan anaknya secara baik. Menjadikan anak mendapatkan perlakuan yang tidak diinginkan dan orangtua menginginkan anaknya menjadi apa yang mereka mau. Sebetulnya tidak demikian, orangtua yang pandai dalam hal pendidikan maka ia seharusnya mengetahui pola asuh seperti apa yang dapat menjadikan anak lebih dewasa dan mudah mengerti apa yang orangtua inginkan.
Mendapatkan pendidikan keagamaan itu memanglah sangat penting, tak hanya menerapkan sholat dan puasa saja melainkan orangtua perlu mengenali anaknya terhadap hal-hal yang tidak bisa dilihat namun harus diimani seperti halnya adanya Allah Swt, adanya surga dan neraka serta yang lainnya. Tak jarang, orangtua yang tidak mampu memberikan hal itu justru ia lebih mempercayai kepada guru atau sekolah sekolah berbasis agama.
Dilihat dari segi teladan, itu cukup baik namun ada yang lebih baik lagi dari itu yaitu memberikan teladan pengajaran agama oleh orangtua sendiri dengan cara memberikan contoh perlakuan spiritual dari ibu dan bapaknya. Orangtua memiliki peranan besar untuk dapat memberikan contoh yang baik sebab merekalah yang dapat melakukan itu setiap harinya.
Tak hanya memberikan teladan melainkan orangtua pun harus dapat memberikan lingkungan yang baik untuk kehidupan anak-anaknya. Ketika orangtua menginginkan pergaulan yang baik maka tidak bisa ia tempatkan anak-anak didalam lingkungan yang tidak baik. Lingkungan dinilai sangat jahat karena tidak semua orang berasal dari keluarga atau dari tradisi yang sama.
Lingkungan pun selalu dikaitkan dengan adanya gadget yang setiap harinya berkembang pesat. Kumpulan orang-orang baik akan memperlakukan gadgetnya dengan hal yang sangat positif. Orangtua yang mendapatkan lingkungan baik akan memberikan sikap yang bijak terhadap penggunaan gadget kepada anaknya. Seperti halnya dengan memberikan aplikasi-aplikasi yang sangat bernilai positif contohnya adalah kisah-kisah para Nabi, belajar Iqra’ atau hal lainnya yang dapat membantu perkembangan ilmunya.
Begitupun halnya dengan pengetahuan yang dimiliki orangtua. Semakin berkembangnya teknologi maka perkembangan pengetahuan orangtua perlu ditambah. Sebab ketika orangtua tertinggal pengetahuannya maka anak akan sewenang-wenang menggunakan gadget kepada hal yang negatif. Dilihat dari akhir pendidikan yang diinginkan orangtua adalah rata-rata mereka menginginkan anaknya menjadi anak yang shaleh dan shalehah serta dapat menjadikan hidupnya lebih baik. Maka dari itu, sebagai orangtua yang memiliki tanggungjawab besar sudah seharusnya melakukan usaha yang terbaik untuk anak-anaknya walau harus mengeluarkan tenaga besar atau uang yang tidak sedikit bilangannya.
?
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Pendidikan Agama Islam didalam keluarga perlulah ditanamkan oleh orangtua kepada anak sejak didalam kandungan sebab pembiasaan yang dilakukan orangtua akan menjadikan anak mengikuti langkahnya. Fitrah dari anak adalah selalu menirukan apa yang ia lihat maka tak heran jika ada pepatah “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” hal itu tidak hanya mengindikasikan kepada kemiripan orangtua terhadap anaknya melainkan sikap yang ia lihat pun akan ia tiru.
Disamping itu, orangtua tak sedikit menginginkan anaknya menjadi lebih baik darinya oleh karena itu didiklah anak dengan pola asuh yang sesuai dengan usianya sebab mayoritas para orangtua memberikan cara asuh kepada anaknya sesuai yang ia rasakan ketika menjadi seorang anak.
Oleh karena itu, hasil tidak akan pernah mengkhianati prosesnya maksudnya ketika orangtua sudah mengerahkan anaknya kepada kebaikan namun tak kunjung baik mungkin saja ada didalam prosesnya yang kurang baik. Dan disisi lain kami sebagai manusia perlu mempercayai akan kuatnya sebuah doa maka berdoalah selalu disetiap harinya untuk bisa menjadikan anak yang dapat memberikan kebanggaan tak hanya didunia melainkan akhiratpun dapat.
B. Saran
Dari hasil yang saya dapatkan bahwa menjadi orangtua sangatlah sulit ketika ia tak memiliki banyak pengetahuan maka dari itu penting kiranya kami sebagai calon para orangtua menuntut ilmu sepanjang hayat.