BAB bawah ini: Proyeksi Penjualan Apparel and

BAB 1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kebutuhan pokok manusia menurut Hariwijaya Soewandi terbagi menjadi 3 yaitu pangan, sandang dan papan. Sepatu masuk dalam kategori sandang, digunakan untuk membantu manusia dalam beraktivitas sehari-hari. Saat ini sepatu tidak hanya sebagai kebutuhan yang hanya cukup dilengkapi saja tetapi sepatu dijadikan sebagai koleksi gaya hidup mereka, sehingga setiap orang memiliki sepatu lebih dari satu pasang.
Pada rilis terakhir yang keluarkan oleh Kementerian Perindustrian, pertumbuhan industri sepatu ekspor dan domestik telah naik 8.15% sepanjang 2016. Selain itu, didapatkan proyeksi pertumbuhan penjualan alas kaki di Indonesia selama lima tahun ke depan (2016-2021) yang digambarkan dalam tabel di bawah ini:
Proyeksi Penjualan Apparel and Footwear berdasarkan kategori
Value 2016-2021
Dalam miliar rupiah
2016 2017 2018 2019 2020 2021
Apparel 111,575.5 116,360.1 122,210.9 128,392.9 134,928.8 141,844.1
Footwear 36,611.8 37,820.9 39,143.3 40,587.8 42,164.1 43,883.5
Sportswear 11,504.6 11,858.9 12,227.5 12,611.7 13,013.1 13,433.3
Apparel and Footwear 148,187.3 154,181.0 161,354.2 168,980.6 177,092.9 185,727.5
Tabel 1.1 Perkiraan Penjualan Sepatu Tahun 2016-2021
(Sumber: Euromonitor Passport)
Data di atas menunjukkan bahwa industri sepatu merupakan industri yang berkembang dan masih memiliki potensi di Indonesia. Akan tetapi, untuk menjadi produsen sepatu yang dapat bersaing dan bertahan di industrinya, perlu adanya diferensiasi produk karena hal tersebut berdampak besar bagi tingginya kepuasan konsumen (Aaker, Batra, Myers, 1992). Dalam rilis ini juga dinyatakan bahwa atribut sepatu yang penting adalah yang dapat menawarkan kelebihan produk yang signifikan bagi kepuasan pelanggan, serta kelebihan produk harus signifikan untuk atribut tesebut bisa dikatakan atribut yang penting.

Melalui riset yang dilakukan oleh Laiwechpittaya and Udomkit (2013) terhadap 50 atribut sepatu, ditemukan bahwa atribut yang paling diminati konsumen adalah kenyamanan, daya tahan, tidak berbau, value for money, dan kualitas. Atribut-atribut tersebut lantas menjadi bagian-bagian penting yang harus diterapkan pada pengembangan sepatu.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Kenyamanan dan daya tahan sangat dipengaruhi oleh pola sepatu dan juga proses pengerjaan sepatu. Value for money dan kualitas lebih pada pendekatan yang dilakukan berdasarkan subjektivitas konsumen. Sedangkan bau kaki dipengaruhi oleh bagaimana sepatu tersebut dapat mengurangi kelembaban dari dalam sepatu sehingga kaki tidak mengeluarkan keringat secara berlebih yang dapat membuat timbulnya bakteri pembuat kaki menjadi bau.

Setelah melakukan observasi di pasar, kelompok menemukan bahwa sementara sudah banyak perusahaan yang menawarkan sepatu dengan atribut kenyamanan, daya tahun, kualitas, serta value for money, namun masih sangat sedikit yang menonjolkan atribut sepatu untuk mengurangi bau kaki. Padahal, bau kaki merupakan masalah yang dapat mengurangi kepercayaan diri seseorang ketika memakai sepatu tertutup.

Pada tahun 2014, American Podiatric Medical Association (APMA) melakukan riset terhadap 1021 manusia dewasa (berusia 18 tahun atau lebih) terkait masalah di kaki, dan hasil menunjukkan bahwa delapan dari 10 orang Amerika mengaku mengalami permasalahan dengan kaki (American Podiatric Medical Association, 2014). Terlebih di Indonesia dengan cuaca yang lembab dan panas, masalah bau kaki lebih mudah timbul.

Selain disebabkan oleh faktor genetik, bau kaki secara tidak langsung dapat disebabkan oleh sepatu itu sendiri. Pembuatan sepatu pada umumnya menggunakan bahan yang tidak menyerap keringat sehingga membuat bakteri menumpuk pada insol sepatu. Saat bakteri-bakteri ini berkumpul, mereka akan mengeluarkan gas berbau menyengat. Gas itulah yang membuat aroma kaki menjadi tidak sedap. Ada tiga jenis gas atau kotoran yang dikeluarkan bakteri pada kaki, yaitu asam propionat, metantiol, dan asam isovalerik. Metantiol membuat kaki berbau seperti belerang dan keju, dan itu diproduksi dari kulit mati. Asam isovalerik juga menebarkan aroma seperti keju dan tengik seperti cuka. Sementara asam propionat memiliki bau asam (Hartono, 2004).

Saat ini ada berbagai cara untuk mencegah bau kaki ketika menggunakan sepatu, seperti pemakaian kaos kaki, sol anti bau kaki, dan cairan penghilang bau kaki. Dikutip dari wolipop (2014), rilis dari American Chemical Society (2012) mengatakan bahwa mengenakan sepatu lengkap dengan kaos kaki juga tidak membantu mengurangi bau kaki secara penuh. Penggunaan kaos kaki justru dapat mengurangi ruang bagi kulit kaki untuk bernapas. Saat berkeringat, kaki jadi lembab, menyebabkan bakteri mudah menetap dan hidup serta berkembang di dalamnya. Penggunaan sol anti bau akan mengurangi kenyamanan dalam meggunakan sepatu, karena sepatu menjadi lebih sempit. Penggunaan cairan penghilang bau kaki juga tidak efektif karena cairan tersebut hanya berguna sesaat tidak dalam jangka waktu yang lama. Harga yang ditawarkan juga tidak sebanding dengan fungsi dari produk tersebut.

Hal-hal yang di atas inilah yang menjadi pertimbangan Miles&co untuk mengembangkan sebuah produk sepatu yang dapat membantu mengurangi masalah bau kaki dengan Value Proposition Design seperti di bawah ini:

Gambar SEQ Gambar * ARABIC 1.1 Value Proposition Canvas
(Sumber : Osterwalder dengan modifikasi)
Miles&co memetakan preferensi pasar dan value yang kami miliki dalam Value Proposition Canvas. Dari gambar diatas terlihat penggunaan sepatu pada pasar sasaran adalah untuk kebutuhan sehari-hari sebagai alas kaki dan memiliki tujuan untuk mengekspresikan diri terutama dalam gaya berpakaian.

Dari aspek pain, konsumen merasa sepatu yang sudah beredar di pasaran banyak yang tidak tahan lama dan kurang nyaman (sakit saat dipakai). Menurut survei online yang kami buat, didapatkan pula bahwa mayoritas responden mempunyai keluhan mengenai sepatu tertutup yang dapat membuat kaki mereka mudah lembap dan berkeringat sehingga menimbulkan bau. Dari aspek gain, konsumen akan senang apabila kita mendapat benefit seperti desain sepatu yang up-to-date sesuai tren, serta ketika sepatu yang dipesan benar-benar sesuai dengan ukuran kaki mereka dan model sepatu yang sesuai dengan preferensi mereka.

Kami menggunakan teknologi presser foot untuk menjawab pain konsumen yaitu sepatu yang tidak tahan lama. Teknologi presser foot dapat menjawab permasalahan kualitas sepatu yang buruk, karena dengan menjahit insol maupun sol dari luar, sepatu akan menjadi lebih kuat dan tahan lama. Selain itu, sepatu kami juga disertai bantalan yang empuk agar meningkatkan kenyamanan pemakaian sepatu. Untuk menjawab permasalahan munculnya bau kaki, kami menambahkan fitur insol anti-lembap yang menyerap keringat kaki sehingga mengurangi timbulnya bau yang tidak sedap pada kaki.
Sebagai gain creator, desain produk kami memiliki exhange policy yaitu produk dapat ditukar apabila sepatu yang dipesan terlalu besar/kecil. Dari segi desain, produk kami merilis desain yang baru secara periodik dimana desain sepatu kami menyesuaikan model sepatu kami dengan tren pasar. Berangkat dari gain creator dan pain reliever yang telah dijabarkan, kami membuat suatu produk dengan value-value yaitu durable (tahan lama), trendy (desain mengikuti tren yang berlaku), serta insol anti-lembab.

Pengimplementasian atribut sepatu yang dapat mencegah lembabnya kaki sehingga membuat kaki tidak menjadi bau di saat tren pertumbuhan industri sepatu meningkat dalam satu dekade terakhir, dapat menjadi peluang yang sangat besar untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Peluang ini diperkuat dengan adanya dorongan dari pihak Pemerintah Republik Indonesia dan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) dalam mendorong produk lokal.Analisis Permintaan
Jumlah Permintaan pada Pasar Sasaran
Permintaan sepatu pada pasar kelas menengah untuk beraktivitas seperti bekerja, bepergian maupun berkuliah. Pada sektor sepatu pria sendiri, euromonitor mencatat transaksi senilai 14 triliun Rupiah sepanjang 2016 dengan casual sneakers menjadi penyumbang penjualan terbesar sepanjang tahun lalu.

Sasaran produk kelompok adalah masyarakat kelas menengah yang berjenis kelamin laki-laki dengan usia sekitar 15-34 tahun. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah penduduk produkti di Indonesia terus meningkat. Fenomena ini diperkuat dengan prediksi bahwa Indonesia akan mengalami bonus demografi yang akan dimulai pada tahun 2020. Sejumlah pakar dengan fenomena ini memperkirakan masyarakat produktif di Indonesia akan mencapai 70% dari total populasi nasional.

Gambar 1.2 Populasi Pria dan Wanita di Indonesia
(Sumber : Boston Consulting Group)
Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa populasi laki-laki di Indonesia cukup besar, yakni 50,34% dan wanita sebesar 49,65%. Dalam rentang usia 15-34 tahun terdapat 34,45% yang dianggap usia sangat produktif. Adanya keadaan tersebut, sangat mendukung potensi pasar yang dapat dicakupi oleh bisnis kelompok. Fokus utama kelompok terhadap kelas menengah juga didukung dengan adanya bonus demografi seperti gambar di atas yang dapat memberikan keuntungan bagi Miles and Co yang memosisikan diri untuk digunakan masyarakat berusia 15-34 tahun. Hal ini karena pada pasar tersebut merupakan proporsi terbesar dari populasi masyarakat Indonesia.

Gambar 1.3 Data Permintaan Alas Kaki Pria di Indonesia
(Sumber : Euromonitor Passport)
Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat permintaan dalam industri alas kaki pria pada tahun 2016 – 2021. Permintaan alas kaki untuk pria tersebut juga mengalami peningkatan yang cukup jauh dari 2016 sekitar 14.000 hingga tahun 2021 hampir 17.000. Adanya peningkatan ini menjadi hal yang positif untuk kelompok sebagai salah satu pemain baru dalam industri alas kaki untuk pria.

Pasar kelas menengah juga menjadi sasaran bagi produk kelompok karena pada tahun 2015 angka kelas menengah Indonesia diprediksi telah menyentuh angka 135 juta jiwa atau melebihi 50% dari total populasi nasional. Masyarakat yang termasuk kelas menengah adalah mereka yang memiliki kisaran pengeluaran kurang lebih Rp 26.000,00 sampai Rp 52.000,00 per hari. Kelas menengah juga didefinisikan bagi mereka yang memiliki penghasilan sebesar Rp 2,6 juta (195 dolar AS) sampai Rp 26 juta (1.947 dolar AS).
Berikut adalah proyeksi jumlah kelas menengah di Indonesia dari tahun 2012 hingga tahun 2020 menurut Boston Consulting Group :

Gambar 1.4 Proyeksi Jumlah Kelas Menengah di Indonesia
(Sumber : Boston Consulting Group)
Dari gambar di atas dapat dilihat pertumbuhan kelas menengah tahun 2020 sebanyak 64% dari 41,6 sampai 68,2 juta jiwa di Indonesia. Adanya pertumbuhan yang signifikan ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelaku usaha sepatu dalam negeri untuk berlomba-lomba memenuhi kebutuhan mereka. Seiring dengan jumlah penduduk yang meningkat maka jumlah sepatu yang dibutuhkan akan semakin banyak. Selain itu, pergeseran kebutuhan sepatu dari pelengkap akan menjadi kebutuhan primer. Oleh karena itu, permintaan sepatu akan meningkat selama beberapa tahun ke depan.
Apabila dilihat dari kebiasaan masyarakat dalam penggunaan sepatu, mereka menggunakan sepatu dalam jangka waktu yang lama. Masyarakat memakai sepatu ketika bekerja, bersekolah, ke kampus, jalan-jalan, dan lainnya. Ketika sepatu digunakan dalam jangka waktu yang lama, maka kaki akan lembab karena keringat dan menimbulkan bau kaki. Hal ini disebabkan karena tidak adanya udara yang masuk ke dalam sepatu. Untuk saat ini, solusi yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan spray anti-bakteri, kaos kaki, dan lainnya. Namun, cara-cara tersebut tidak secara efektif menyelesaikan masalah tersebut.
Pembagian klasifikasi pasar kelas menengah bedasarkan behavior dijabarkan dalam survei yang dilakukan oleh Middle Class Insititute dibagi menjadi 8 jenis, seperti pada gambar berikut:

Gambar 1.5 Klasifikasi Masyarakat Kelas Menengah
(Sumber : Middle Class Institute)
Menurut gambar di atas, setiap klasifikasi mempunyai kebiasaan dan preferensi yang berbeda-beda. Kuadran di atas dibagi berdasarkan 3 aspek yaitu daya yang dimiliki, pengetahuan yang dimiliki, dan jaringan sosial yang dimiliki. Kuadran yang memiliki daya beli yang rendah merupakan kelas menengah yang baru saja naik kelas dari klasifikasi kelas bawah, sedangkan kuadran yang memiliki daya beli yang tinggi merupakan kelas menengah atas.

Pasar kelas menengah memiliki beberapa karakteristik yang harus dipenuhi oleh produsen. Menurut pakar ekonomi Amerika, Scott Anderson menjelaskan bahwa ada 3 karakteristik yang harus dipenuhi oleh produsen untuk memenuhi prefrensi kelas menengah yaitu price, durability, and style. Pasar kelas menengah sangat mengincar produk dengan harga yang relatif tidak terlalu tinggi, kuat, memliki model yang sesuai dengan tren fesyen. Dari karakteristik tersebut kelompok berusaha memberikan produk yang sesuai dan mampu menjawab keinginan pasar. Gaya hidup kelas menengah juga menjadi lebih kompleks, mengikuti perkembangan teknologi, dan juga konsumtif.

Saat ini Indonesia masuk ke dalam 5 negara yang memiliki potensi pasar kelas menengah terbesar seperti pada gambar berikut :

Gambar 1.6 Data Potensi Pasar Kelas Menengah 5 Negara
(Sumber : Euromonitor Passport)
Pada gambar diatas, dapat dilihat bahwa Indonesia berada pada urutan ke 3 setelah China dan India dengan rata-rata pertumbuhan pendapatan sekitar 80% dan perkiraan untuk rata-rata pendapatan kelas menengah di tahun 2030 sekitar $11.000 – $12.000 USD. Oleh karena itu, kelompok memiliki peluang yang besar untuk pasar kelas menengah dengan adanya peningkatan tersebut.

Gambar 1.7 Data Populasi dan Pengeluaran Masyarakat di Indonesia
(Sumber : Boston Consulting Group)
Gambar diatas menunjukan riset yang dilakukan oleh The Boston Consulting Group, mereka menyatakan bahwa daya beli masyarakat kelas menengah sendiri diprediksi akan semakin meningkat ke depannya. Peningkatan ini terjadi seiringan dengan peningkatan jumlah masyarakat kelas menengah. Pada tahun 2020, BCG memprediksi masyarakat kelas menengah (upper middle, middle, dan emerging middle) akan menyentuh angka 168 juta jiwa. Hal ini akan sangat menguntungkan usaha yang memiliki target pasar kelas menengah seperti Miles.

Di samping itu, faktor eksternal lainnya adalah peningkatan harga kebutuhan pokok yang membuat gaji semakin tersisih. Hal ini diprediksi mempengaruhi minat pembelian konsumen terhadap produk mahal dan lebih beralih kepada produk yang sesuai kebutuhan mereka dengan harga terjangkau. Adanya kondisi permintaan pasar di atas yang menginginkan produk dengan karakteristik tersebut membuat Miles and Co ada pada zona yang sesuai pasar kelas menengah dan diharapkan menjadi sepatu yang digemari oleh anak muda kelas menengah di Indonesia.

Analisis Bidang Politik, Ekonomi, Sosial, dan Teknologi
Aspek Politik
Menurut survei Best Countries for Entrepreneurship yang diselenggarakan perusahaan komunikasi Y&R, BAV Consulting dan tim riset dari Wharton School of the University of Pennsylvania bahwa semakin banyak kesempatan wirausaha di sebuah negara maka semakin baik pula iklim ekonomi di negara tersebut. (Muliana, 2017, para. 1 dan 2). Tentu saja Indonesia harus berusaha untuk terus meningkatkan jumlah wirausaha di Indonesia dan nampaknya pemerintah juga sudah mulai untuk serius meningkatkan jumlah bisnis start-up Indonesia.

Presiden Republik Indonesia ke-7, Joko Widodo sedang berusaha untuk meningkatkan jumlah industri start-up Indonesia, bahkan beliau ingin melakukan deregulasi besar-besaran untuk mendukung perkembangan e-commerce jika dibutuhkan. ( Jokowi, 2016, dalam Suryadi, 2016) Beliau juga mengadakan gerakan 1000 Start-up digital dengan menargetkan terciptanya 1000 bisnis startup baru pada tahun 2020. Seperti yang dikutip dari setkab, Sekretariat Kabinet Republik Indonesia (9/5/2016), Presiden telah menandatangani Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2016 tentang perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2015 mengenai Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di bidang-bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu. Dengan adanya Peraturan Pemerintah tersebut, pajak penghasilan untuk industri alas kaki untuk keperluan sehari-hari, industri sepatu olahraga, industri sepatu teknik lapangan/ keperluan industri, dan konveksi dari tekstil serta kulit akan dipangkas.

Upaya pengembangan merek sepatu dan penggunaan barang lokal juga sedang dicanangkan oleh pemerintah. Gerakan penggunaan produk lokal ini disebut sebagai P3DN ( Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri) yang merupakan amanat Undang- Undang Nomor 3 Tahun 2014 yang dilanjutkan dengan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 2 Tahun 2014 mengenai Pedoman P3DN dalam Pengadaan Barang/ Jasa. Gerakan ini dapat menjadi sebuah kesempatan bagi produk lokal untuk berkembang termasuk di dalamnya produk lokal sepatu.

Terakhir adalah usaha yang dilakukan Kemenperin untuk memperluas pasar yaitu dengan mengembangkan program e-smart IKM (Industri Kecil Menengah) yang pada intinya adalah database IKM. Pemerintah memberlakukan program ini sebagai sarana IKM untuk dapat lebih terintegrasi dengan internet.

Aspek Ekonomi

Gambar 1.8 Pertumbuhan Pengeluaran Masyarakat Indonesia Tahun 2011-2030
(Sumber : Euromonitor Passport)
Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa pengeluaran masyarakat Indonesia sempat menurun drastis pada tahun 2015, penurunan ini terjadi akibat penurunan pendapatan yang siap dibelanjakan (disposable income) serta kenaikan harga kebutuhan rumah tangga. Namun, pada tahun 2016 terjadi peningkatan pengeluaran dan pada tahun-tahun selanjutnya diramalkan akan mengalami stagnansi.

Gambar 1.9 Pengeluaran Rata-Rata Masyarakat Indonesia Tahun 2011-2030
(Sumber : Euromonitor Passport)
Jika ditelaah lebih lanjut pada gambar diatas, penurunan pengeluaran ternyata tidak terjadi pada semua segmen namun hanya pada pengeluaran yang sifatnya esensial seperti makanan, minuman, dan rumah tannga. Penurunan ini memberikan kesempatan pada segmen pasar non esensial seperti pakaian dan alas kaki untuk meningkat. Penurunan terjadi paling besar pada pengeluaran rumah tangga. Untuk industri alas kaki sendiri menunjukan kecenderungan meningkat, hal ini diperkuat oleh data di bawah ini.

Gambar 1.10 Data Penjualan Sepatu di Indonesia
(Sumber : Euromonitor Passport)
Menurut data diatas yang bersumber dari Euromonitor, penjualan sepatu di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2016. Pada tahun 2016 terjadi peningkatan sebesar 7% jika dibandingkan dengan tahun 2015. Peningkatan terbesar terjadi pada segmen sepatu wanita yang meningkat sebesar 8%, sedangkan untuk segmen sepatu pria meningkat sebesar 7%. Dengan meningkatnya penjualan sepatu di Indonesia tentu saja menjadi sebuah hal yang menguntungkan bagi pemilik usaha sepatu. Tidak berhenti sampai di situ, industri alas kaki diramalkan untuk terus bertumbuh karena industri alas kaki menerima bantuan dari pemerintah, perkembangan industri alas kaki sendiri merupakan salah satu prioritas pemerintah pada tahun 2021.

Aspek Sosial dan Budaya
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, tipe masyarakat dibagi menjadi 8 dan target Miles adalah mereka yang berada dalam kategori the climber dan the follower yang merupakan bagian dari kelas menengah. The climber adalah mereka yang mengejar status ekonomi untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan the follower yang merupakan pengikut tren. Untuk dapat diterima oleh target pasar, kelompok berusaha untuk menciptakan sepatu yang modelnya selalu mengikuti perkembangan jaman disertai dengan fitur untuk mengurangi bau, namun memiliki harga yang masih dapat dikompromikan.

Menurut survei yang dilakukan Kompas (2012), masyarakat menengah merupakan masyarakat yang semakin konsumtif setiap harinya. Hal ini terjadi karena adanya pengaruh dari gaya hidup mereka yang sebelumnya merupakan masyarakat kelas atas dan kemudian berubah posisi menjadi masyarakat kelas menengah. Menurut survei tersebut, mereka yang belum memiliki tanggung jawab pekerjaan saat terjadinya krisis ekonomi Indonesia pada tahun 1998 merupakan kelompok masyarakat kelas menengah yang paling konsumtif. Adanya pengaruh dari tingkah laku dan gaya hidup tersebut membuat potensi bisnis yang akan dijalankan semakin besar dengan target yang sesuai.

Selain itu terdapat pula perubahan perilaku konsumen yang memberikan kesempatan bagi produk kelompok untuk dapat diterima masyarakat, riset yang dilakukan The Boston Consulting Group mengatakan bahwa konsumen sekarang lebih tertarik kepada produk fesyen yang sifatnya tidak formal. Fenomena ini bukanlah sesuatu yang baru namun baru mendapatkan momentum akhir-akhir ini. Terdapat fenomena yang berhubungan yaitu masyarakat lebih memilih untuk mengeluarkan biaya tinggi pada experienced goods seperti paket liburan dibandingkan mengeluarkan biaya untuk produk fesyen yang mewah.

Aspek Teknologi
Adanya perkembangan teknologi yang semakin canggih dapat dimanfaatkan secara maksimal dalam berbisnis. Kemajuan teknologi membantu bisnis dapat berjalan secara online dan muncul banyak e-commerce yang terus bertambah. Masyarakat juga lebih menyukai berbelanja di e-commerce atau secara online. Peluang bisnis e-commerce sangatlah besar dengan adanya peningkatan jumlah pengguna internet yang tinggi. Perusahaan konsultan Mckinsey & Co memprediksikan, bahwa pasar e-commerce di Indonesia akan menjadi yang terbesar di dunia. Saat ini Indonesia berada di posisi ke enam sebagai negara dengan pasar terbesar di dunia, dengan memiliki USD 2 miliar pasar e-commerce.
Hasil survei yang diselenggarakan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2016 mengatakan bahwa penetrasi internet di Indonesia telah menyentuh angka 51.8% dari populasi masyarakat Indonesia, dengan jumlah pengguna internet sebanyak 132,7 juta orang dan 65% dari pengguna internet berdomisili di pulau Jawa. Jumlah ini meningkat dengan pesat jika dibandingkan dengan tahun 2014 dimana penetrasi internet baru menyentuh angka 34.9%, yaitu sebanyak 88,1 juta orang. Hasil survei ini tentu saja mendukung proyeksi perkembangan jumlah pengguna internet di Indonesia.

Gambar 1.11 Data Survei Penetrasi Penggunaan Internet di Indonesia
(Sumber : APJII)
Terdapat 6 dampak positif yang didapatkan dari bisnis e-commerce, dampak-dampak positif tersebut adalah: peningkatan efisiensi, biaya yang dikeluarkan dapat dihemat, kontrol produk menjadi lebih mudah, memperbaiki rantai distribusi, hubungan dengan konsumen menjadi lebih terjaga, dan hubungan dengan pemasok juga menjadi lebih terjaga. Salah satu manfaat yang dirasakan oleh pelaku usaha e-commerce adalah efisiensi. Dengan adanya e-commerce, pelaku usaha tidak perlu melakukan bisnis dengan cara lama (offline), misalnya pemasaran dapat dilakukan secara online sehingga biaya yang harus dikeluarkan dapat ditekan. Internet juga dapat memudahkan komunikasi dengan konsumen dan pemasok karena pelaku usaha tidak perlu bertatap muka secara langsung untuk melakukan komunikasi.

Analisis Penawaran
Jumlah Penawaran pada Pasar Sasaran
Masyarakat Indonesia terus mengikuti pergantian tren fesyen, khususnya alas kaki (sepatu). Mereka juga mulai peduli terhadap produk dalam negeri sehingga makin banyak pelaku usaha yang terjun ke dunia ini. Tidak hanya wanita yang konsumtif, sekarang pria pun mengikuti tren fesyen sehingga kesempatan ini digunakan oleh para pelaku bisnis untuk menargetkan produknya ke para pria.

Adanya faktor pengrajin sepatu yang sudah menjamur juga menjadi faktor pendukung pelaku usaha dalam industri ini. Selain itu, harga yang mereka tawarkan juga tidak mahal sehingga para pelaku usaha akan mendapatkan keuntungan maksimal dengan mengambil margin sekitar 75-100%. Adanya kesempatan ini diambil oleh mereka sehingga banyak pelaku usaha yang terjun ke industri fesyen, khususnya sepatu dan persaingannya dapat dibilang cukup ketat. Hal ini dapat dilihat dari data Kemenperin, bahwa industri alas kaki menyumbang sekitar 28% terhadap penerimaan negara. Angka tersebut dibuktikan melalui pencapaian produk domestik bruto (PDB) kelompok industri ini yang naik dari Rp31,44 triliun pada tahun 2015 menjadi Rp35,14 triliun tahun 2016. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa jumlah pemain sepatu di Indonesia cukup besar.

Menurut data dari kemenperin (2016) sekarang ini, peluang bisnis sepatu lokal untuk kelas menengah terus mengalami kenaikan dan pada tahun 2016 sudah mencapai hampir 70%, 30% untuk kelas menengah ke bawah dan sisanya dikuasai oleh sepatu impor. Penawaran yang ada di pasar juga akan terus meningkat seiring dengan produk yang dihasilkan akan semakin banyak dan meningkatkan kualitas produknya sehingga tidak kalah dengan yang lain. Harga yang ditawarkan juga tidak beda jauh dengan yang lain.

Menurut perkiraan Marga Singgih, Ketua Bidang Pengembangan Pasar Dalam Negeri Pengurus Nasional Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) tahun 2016, kebutuhan sepatu di Indonesia cukup besar sehingga akan melahirkan banyak pengusaha sepatu. Aprisindo mencatat terdapat lebih dari 200 merek sepatu nasional, baik itu perusahaan besar maupun industri kecil di Jabodetabek. Pemain dalam industri alas kaki ini akan terus meningkat seiring dengan jumlah penduduk yang semakin banyak.

Menurut ketua aprisindo (2016) industri alas kaki (sepatu) di Indonesia memiliki potensi peluang usaha masih cukup besar karena populasi Indonesia sangat banyak dan pangsa pasar menengah yang akan menjadi target sekitar 50-55% dari total populasi. Sedangkan, pelaku usaha yang menjalankan usaha dalam industri sepatu belum tentu mencukupi kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat. Namun, adanya inovasi dan kelebihan produk yang ditawarkan sangat diperlukan dalam industri ini serta harus mengikuti tren yang ada.

Gambar 1.12 Data Pangsa Pasar Merek Sepatu di Indonesia
(Sumber : Euromonitor Passport)
Menurut data Euromonitor, brand shares industri alas kaki Indonesia pada tahun 2013 – 2016 dipimpin oleh Bata dengan persentase yang cukup kecil yaitu hanya sekitar 3% pada tahun 2013. Namun, persentase tersebut menurun pada tahun 2016, yaitu sebesar 2,8%. Presentase yang dimiliki oleh perusahaan ternama dapat dibilang cukup kecil apabila dibandingkan dengan merek-merek lainnya. Dalam tabel tersebut dapat dilihat bahwa merek lain dalam industri ini yang tidak termasuk daftar diatas memiliki persentase brand share yang lebih besar dibandingkan industri alas kaki yaitu rata-rata sekitar 84%. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa peluang kelompok sebagai salah satu merek alas kaki cukup besar untuk masuk ke dalam industri tersebut.
Berikut adalah data yang lebih spesifik dari Ketua Aprisindo (2017) :
Tabel 1.2 Pangsa Pasar Sepatu Casual Pria Terbesar di Dalam Negeri Tahun 2017
Merek Pangsa Pasar
Bata 27%
Nike 18%
Converse All Star 17%
Adidas 5,4%
(Sumber : Ketua Aprisindo)
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa Bata masih memegang pangsa pasar tertinggi pada tahun 2017 khususnya untuk sepatu kasual. Dari merek-merek tersebut, rata-rata mereka menargetkan kelas menengah ke atas dan bukan kelas menengah. Selain itu, mereka belum menawarkan sepatu yang memiliki fitur anti-bau sehingga dapat dikatakan walaupun panga pasar mereka terbesar di Indonesia, namun mereka belum mencukupi kebutuhan masyarakat mengenai bau kaki.

Sekarang ini ada beberapa merek terkenal dalam produsen sepatu lokal di Indonesia seperti Brygan, Footstep, Dane and Dine, dan lainnya. Ketiga merek tersebut telah terlebih dahulu terjun ke industri alas kaki di Indonesia. Mereka menjual produknya dengan harga sekitar 200 – 300 ribuan. Dengan demikian, merek tersebut menjadi pesaing Miles&co dalam industri sepatu karena ketiga merek tersebut sudah dikenal oleh masyarakat pasar menengah.

Dari sekian banyaknya perusahaan sepatu yang ada di Indonesia, penawaran produk yang ada saat ini belum mencukupi kebutuhan masyarakat untuk mengurangi bau kaki. Hal ini dapat dilihat bahwa merek-merek sepatu yang ada saat ini belum mengeluarkan produk sepatu yang menggunakan teknologi tertentu untuk meyelesaikan masalah tersebut. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa peluang dalam penawaran produk sepatu untuk mengurangi bau kaki masih cukup besar.

Analisis Persaingan pada Pasar Sasaran
Sepatu termasuk barang yang elastis, artinya ketika harga naik maka konsumen dapat mencari produk lain yang harganya lebih murah. Dalam hal ini apabila sepatu memiliki produk substitusi yang sangat mirip baik dari segi kualitas, harga, maupun desain maka respon konsumen terhadap harga akan sensitif. Oleh karena itu, banyak pelaku usaha yang membuat bisnis sepatu (alas kaki) di Indonesia. Berikut adalah situasi industri sepatu menurut teori Five Forces dari Porter dalam gambar sebagai berikut :
13182601304925LEMAH
00LEMAH

Gambar 1.13 Analisis Industri Alas Kaki dengan Model “Porter’s Five Forces”
(Sumber : Jurnal mengenai Industri Sepatu di Indonesia)
Berikut adalah penjelasan analisis industri alas kaki di Indonesia menurut teori Porter :
Kekuatan tawar pemasok
Kekuatan dari pemasok dikatakan bersifat “lemah”, karena jumlah pengrajin yang semakin banyak namun kualitas produk yang dihasilkan antar perajin tidak memiliki perbedaan jauh. Menurut Kepala Dinas KUKM Perindustrian Perdagangan Kota Bandung, Eric Mohamad Atorik, pada tahun 2014 terdapat sejumlah 485 perajin di Cibaduyut, Jawa Barat. Jumlah ini jauh meningkat dibandingkan dengan tahun 2010 yaitu sebanyak 247 perajin. Sementara itu di kabupaten lain seperti Magetan dan Tanggulangin jumlah perajin terus meningkat setiap tahunnya. Hal ini menyebabkan mudah untuk mencari alternatif vendor perajin sepatu.

Kekuatan tawar pembeli
Konsumen berpotensi untuk memiliki daya tawar yang kuat, agar produsen dapat menghasilkan produk dengan kualitas yang lebih tinggi dengan harga yang lebih rendah. Konsumen bertambah banyak seiring perkembangan pertumbuhan penduduk dan mereka banyak menerima informasi baik dari media cetak maupun elektronik sehingga mereka dapat membandingkan kualitas atau harga antar satu merek dengan merek alas kaki lainnya. Biaya mengganti dari satu produsen ke produsen sepatu lainnya bersifat tidak mahal/sedikit. Yang terpenting bagi pembeli adalah produsen yang dapat menawarkan produk sesuai tren dengan kualitas yang baik, maka akan menjadi pilihan mereka. Maka dapat disimpulkan bahwa kekuatan dari pembeli dikatakan bersifat “kuat”.

Ancaman Pendatang Baru
Hambatan masuk ke industri termasuk “tidak besar” atau ancaman pendatang baru “kuat”. Pertama, kebutuhan akan modal tergolong tidak terlalu besar. Jika calon pendatang baru memiliki modal maka memiliki kesempatan untuk masuk ke dalam industri ini lalu melakukan pengembangan pasar, pengembangan produk, dan penetrasi pasar. Selain itu, tidak ada peraturan pemerintah yang menghambat bisnis alas kaki di Indonesia. Akses ke distributor dan pemasok yang cenderung mudah baik dari sisi pemasaran dan mendapatkan vendor. Akan tetapi, harga pokok produksi cenderung mahal. Calon pendatang baru akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan keuntungan finansial yang memadai seiring dengan dilakukannya investasi baru.

Persaingan Antar Perusahaan dalam Industri
Persaingan antar pelaku usaha sepatu di Jakarta cukup ketat atau “kuat”. Jumlah pesaing atau perusahaan dalam industri alas kaki di Indonesia banyak yang terdiri dari produsen skala kecil, menengah dan besar. Selain itu, diferensiasi produk yang kurang dominan dilakukan para pebisnis alas kaki di Jakarta menyebabkan persaingan di antara produsen tersebut semakin ketat.

Ancaman barang substitusi
Ancaman produk substitusi di industri ini tergolong “kuat”. Pertama, jumlah barang substitusi yang berasal dari dalam dan luar negeri ada banyak, bahkan menurut Aprisindo kebutuhan alas kaki Indonesia separuhnya berasal dari impor, maka produsen lokal bersaing ketat dengan produsen luar negeri. Kinerja dari barang subsitusi juga baik dengan harga yang bervariasi, konsumen cukup peka terhadap perubahan harga dari produk subsitusi. Oleh karena itu, mereka mudah untuk pindah ke produk subsitusi. Perilaku konsumen fashion seperti alas kaki berupa sepatu dan sandal cenderung tidak loyal pada sebuah merek. Mereka cenderung mudah berganti dari satu merek ke merek lainnya tanpa ada permasalahan ataupun biaya yang berarti.

Dari analisa Porter diatas dapat dikatakan bahwa dalam industri sepatu (alas kaki) kuat apabila dilihat dari persaingan antar perusahaan yang sudah ada dan ancaman dari barang subsitusi serta jumlah pembeli yang banyak. Namun, apabila dilihat dari aspek pemasoknya maka kekuatan tawar menawarnya terbilang lemah. Demikian juga dengan ancaman dari pendatang baru.

Dalam menjalankan bisnis, brand kelompok yaitu Miles menargetkan produk untuk masyarakat kelas menengah dengan harga yang dapat dijangkau. Ada 2 tipe pesaing dalam industri ini adalah sebagai berikut :
Pesaing Langsung
Dalam industri sepatu memang banyak pesaing langsung yang menawarkan produk sepatu secara umum. Namun, untuk sepatu yang memiliki fitur khusus anti bau, sampai saat ini di Indonesia sendiri belum ada produsen yang mengeluarkan produk yang sasarannya sama dengan kelompok.
Pesaing Tidak Langsung
Brygan Craftmanship

Gambar 1.14 Logo Brygan Craftmanship
(Sumber : Official Webiste Brygan)
Produk yang ditawarkan oleh Brygan adalah sepatu, sandal, tas, shoelace, dan dompet. Produk yang menjadi pesaing Miles adalah sepatu jenis sneakers karena Brygan menjual dengan harga yang sama yaitu sekitar Rp 235.000,00. Namun, untuk jenis sepatu ini ia baru memiliki 1 model sepatu dengan 3 warna yang berbeda. Brygan juga fokus pada sepatu formal, ia menawarkan harga dari Rp 285.000,00 – Rp 550.000,00. Penjualan yang dilakukan juga berbasis online, yaitu website dan Instagram serta ia sudah memiliki kantor di Bandung.

Dane and Dine

Gambar 1.15 Logo Dane and Dine
(Sumber : Official Webiste Dane and Dine)
Dane and Dine melakukan penjualan berbasis online yaitu melalui Instagram dan website. Selain itu, ia juga sudah menjual produknya melalui Matahari Mall, Zalora, Line Shoping, Blibli, Lazada, Buka Lapak, dan Qlapa. Produk yang ditawarkannya adalah sepatu pria, sepatu wanita dan tas (backpack). Ia melakukan promosi dengan menjual produknya secara bundling, yaitu setiap membeli sepatu akan mendapatkan backpack. Harga yang ditawarkan sekitar Rp 199.000,00 – Rp 239.000,00. Dane and Dine merupakan pesaing Miles secara langsung karena harga yang ia tawarkan sangat menyasar pasar kelas menengah. Ia juga sudah memiliki kantor di daerah Jakarta Timur.

Foot Step

Gambar 1.16 Logo Foot Step
(Sumber : Official Webiste Foot Step)
Produk yang ditawarkan oleh Foot Step adalah sepatu dan tas. Untuk sepatu, jenis yang ditawarkan adalah sneakers dan casual. Foot Step memberikan harga Rp 240.000,00 – Rp 280.000,00 untuk sepatu sneakers dan sepatu casual seharga Rp 240.000,00 – Rp 260.000,00. Dengan harga yang ditawarkan, dapat dilihat bahwa brand ini memiliki sasaran yang sama dengan Miles. Penjualan yang dilakukan juga berbasis online melalui Instagram dan website. Namun, ia sudah memiliki kantor di daerah Bandung.

Panama (Fipper)

Gambar 1.17 Logo Fipper
(Sumber : Official Webiste Fipper)
Produk yang ditawarkan oleh Fipper, yang sekarang berganti nama menjadi Panama adalah sandal jepit. Ia menawarkan produk untuk anak-anak hingga dewasa. Harga yang ditawarkan juga sangat murah yakni sekitar Rp 85.000,00 – Rp 110.000,00 karena produknya ditargetkan untuk kelas menengah. Saat ini, Panama sudah melakukan penetrasi di beberapa mall seperti Teras Kota BSD City, Summarecon Mall Serpong, Mall Kelapa Gading, dan sebagainya. Ia juga melakukan promosi melalui website dan Instagram.

Ipanema

Gambar 1. 18 Logo Ipanema
(Sumber : Official Webiste Ipanema)
Produk yang ditawarkan oleh Ipanema adalah sandal jepit yang bergaya casual dan santai. Harga yang ditawarkan sekitar Rp 140.000,00 – Rp 173.000,00. Ia sudah melakukan penetrasi di beberapa mall seperti Mall Kota Kasablanka, Grand Indonesia, Summarecon Mall Serpong, dan lainnya, serta melalui Zalora, IPrice, dan promosi di Instagram.

Kesimpulan Analisis Potensi Lingkungan Bisnis
Penggunaan sepatu dalam waktu yang lama dapat menghasilkan beberapa permasalahan. Salah satu permasalahan yang muncul adalah bau kaki yang timbul karena kaki yang berkingat. Penggunaan kaos kaki dan spray anti-perspirant untuk kaki tidak mengatasi masalah tersebut, mereka juga telah mencoba menggunakan sol anti bau namun hal tersebut kurang efektif karena dengan menambah lapisan sol baru pada sepatu akan membuat kaki menjadi lebih sesak sehingga mengeluarkan keringat berlebih.

Menurut Middle Class Institute, permintaan dari pasar kelas menengah dengan usia produktif diprediksi akan mengalami kenaikan yang signifikan hingga akhir 2030. Permintaan ini didorong pada pertumbuhan kelas menengah yang diprediksi sudah mulai terjadi secara besar-besaran pada awal 2012. Bonus demografi sendiri diprediksi akan dimulai pada tahun 2020 hingga 2030.

Membidik pasar kelas memengah merupakan peluang yang besar. Pengembangan produk untuk mendorong permintaan juga kelompok perkuat dengan memberikan atribut sepatu anti-bau pada sepatu yang kelompok buat. Atribut ini juga dibalut dengan preferensi harga yang seusai dengan konsumen sehingga diyakini dapat mendorong permintaan yang signifikan pada pasar sasaran.

Apabila dilihat dari jumlah penawaran dalam industri alas kaki belum ada pemain yang mengeluarkan produk sepatu dengan fitur anti bau untuk pria. Jika dilihat dari pemain yang menargetkan pasar kelas menengah, ada 3 merek yang dinilai akan menjadi pesaing Miles&co. Ketiga merek tersebut adalah Brygan, Dane and Dine, dan Footstep yang menawarkan produk sekitar 200-300 ribuan.
Selain itu, jika dilihat dari data Ketua Aprisindo (2016) industri alas kaki (sepatu) di Indonesia memiliki potensi peluang usaha masih cukup besar karena populasi Indonesia sangat banyak dan pangsa pasar menengah yang akan menjadi target sekitar 50-55% dari total populasi. Pemain yang ada saat ini belum mencukupi kebutuhan masyarakat mengenai bau kaki. Oleh karena itu, peluang Miles&co cukup besar untuk masuk dalam industri ini dengan menonjolkan fitur yang ditawarkan
Pertumbuhan industri sepatu, kelas menengah, fenomena bonus demografi, ketersediaan produk kebutuhan fesyen yang belum merata, dan belum maraknya dikembangkan sepatu yang sesuai dengan karakteristik kelas menengah tentu menjadi peluang yang sangat besar bagi para pelaku bisnis sepatu untuk membuat bisnis sepatu dengan pendekatan-pendekatan dan selera yang sesuai dengan yang diinginkan. Kelompok membuat produk sepatu dengan channel penjualan berbasis e-commerce, sosial media dan juga ritel secara offline untuk memenuhi kebutuhan sepatu di daerah di luar Jabodetabek. Pengiriman barang juga akan kelompok lakukan dengan kerja sama antar ekspedisi karena kelompok sudah berhasil mendapatkan perjanjian untuk mendapatkan potongan biaya pengiriman hingga 35%.

Bibliography
BIBLIOGRAPHY Blaxter, L. (2006). How To Research (Seluk Beluk Melakukan Riset). Jakarta: PT. Indeks Kelompok Gramedia.

Jani Rahardjo, R. E. (2000). PENERAPAN MULTI-CRITERIA DECISION MAKING DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN SISTEM PERAWATAN. JURNAL TEKNIK INDUSTRI VOL. 2, NO. 1, 1-12.

Kotler, P. (2002). Manajemen Pemasaran. Jakarta: PT. Prenhallindo.

Mc., D. (2001). Pemasaran. Jakarta: Salemba Empat.

Swastha, B. (1998). Manajemen Pemasaran Modern. Yogyakarta: Liberty.

x

Hi!
I'm Alfred!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out